PERUBAHAN
Allah menciptakan manusia
lalu dijadikannya berkembang biak di muka bumi ini sebagaimana yang
difirmankan-Nya dalam QS. Ar-Rum ayat 20:
Berawal dari tanah Allah menciptakan manusia lalu
ditumpahkan-Nya air mani ke rahim seorang ibu kemudian jadilah seorang manusia
yang sempurna. Perubahan bentuk demi bentuk serta dilengkapi dengan hati dan
akal pada penciptaan manusia semestinya seiring dengan perubahan karakter dan
kepribadian seseorang. Perubahan pribadi dari yang tidak baik menjadi baik,
dari yang tidak tawadhu menjadi tawadhu
dan masih banyak lagi transisi lainnya.
Islam mengajarkan
keseimbangan dalam menjalankan kehidupan. Keseimbangan dalam memenuhi jasad,
akal dan hati. Ketiga hal ini seiring sejalan. Masing-masingnya punya hak dan
kewajiban. Jasad mempunyai hak untuk tetap sehat dan kuat, akal mempunyai hak
untuk tetap jernih dan begitupun hati punya hak untuk tetap tenang.
Pemenuhan hak atas apa yang
telah dititipkan Allah manusia diwajibkan untuk memenuhinya.
Jasad diperkuat dengan memakan
makanan yang halal dan baik serta baik juga dalam memperolehnya. Akal
dipertajam dengan memikirkan firman-Nya dan semesta yang telah diciptakan Sang
Maha Perkasa. Sementara ruhiyah dibangkitkan dengan keimanan yang terpatrikan
pada-Nya.
Ketika ketiga ini bermasalah
maka pasti ada penawar masing-masingnya. Jasad yang sakit dapat diobati dengan
memakan obat sesuai takarannya. Pikiran atau akal yang keruh dapat dijernihkan
dengan membaca Al-Qur’an. Sementara hati yang telah usang dapat diperbaiki
dengan istighfar.
Berbagai pelajaran kehidupan
yang dapat dipahami membuat seseorang dapat berubah yang dimulai pada akal
semakin berkembang, jasad semakin kuat dan hati semakin tertunduk. Kepercayaan
bahwa Allah memberikan ujian agar seseorang itu naik kelas dan bertekad tidak
akan berputus asa dari rahmat-Nya merupakan hal yang hanya ada pada sisi orang
yang beriman.

Komentar
Posting Komentar