MEMINTA RECEHAN
Suatu hal yang tanpa kita sadari diri ini terjebak dalam
perkara : mengerjakan akhirat untuk dunia
Saat kita berjuang terjaga di sepertiga malam untuk
qiyamullail, jangan-jangan permintaan jodoh, karier, kemudahan akademik, lebih
ramai di kepala kita dari pada mengemis mengharap ampunan-Nya.
Saat kita tersungkur di waktu dhuha, jangan-jangan
kedudukan, followers, gaji, keuntungan bisnis, lebih ramai di kepala kita dibanding
berharap limpahan rahmat dan karunia-Nya.
Barangkali ada yang mengusap benda-benda impiannya sambil
bersalawat berulang-ulang (yang katanya biar terwujud benda itu jadi miliknya).
Jangan-jangan benda itu lebih riuh dikepala dan hati kita dibandingkan rasa
cinta, rindu dan keinginan berjuang bersama Rasulullah SAW. Bukankah itu makna
salawat yang sesungguhnya?
Jangan-jangan di setiap kita bercemin mematut diri,
melihat tubuh kita berbalut kerudung dan gaun nan anggun, rasa cantik dan ingin
dikagumi lebih riuh dikepala kita, dibanding rasa taat dan tunduk mengikuti
segala perintah-Nya
Saat kita melakukan amalan ukhrawi, jangan-jangan semua
itu kita lakukan hanya ingin untuk mendapatkan keuntungan duniawi.
Jangan-jangan selama ini kita mengerjakan akhirat hanya
untuk dunia. Jangan-jangan kita lebih merindu untuk bergelimang harta, gelar,
kedudukan, pandangan orang terhadap kita, dibanding mendapatkan rida, ampunan
dan kasih sayang-Nya.
Hal itu ibarat bayangan yang ada pada diri kita sendiri, diri
kita adalah akhirat sedangkan bayangan adalah dunia. Bayangan kita selalu
berada dibelakang yang mengikuti kemana saja kita pergi. Begitu pula dengan
ketika kita melakukan dunia untuk akhirat maka dunia pasti akan dapat kita capai
sebagaimana dalam QS. Muhammad ayat 7.
Tanpa sadar kita melewatkan banyak sekali kesempatan
berharga, hanya untuk permintaan remeh-temeh. Saat orang lain telah berulang
kali meminta impian tertinggi, ditempatkan dalam surga firdaus, dijaga dalam hidayah-Nya,
dimatikan dalam kondisi syahid, kita masih saja mengemis dan meminta recehan
dilemparkan dari langit.
Dikutip dari Buku “Seni Tinggal di Bumi “ karangan Farah
Qoonita

Komentar
Posting Komentar